Kenapa Harus Bernegosiasi Dengan Ketidakbenaran

0

Kenapa Harus Bernegosiasi Dengan Ketidakbenaran

Oleh : Vera Yuania Amir (Penulis dan Alumnus FH-UA)

Jakarta, bangjapar.id — Nah hari ini saya mencoba menulis mengenai persoalan LGBT. Saya tidak peduli kalau tulisan saya akan bernilai negatif di mata orang. Saya siap dikatakan sok bersih!

Bagi saya, jelas, tidak ada toleransi terkait persoalan LGBT. Mau dipakai dasar kemanusiaan, kesetaraan, emansipasi sosial atau lainnya, saya tidak sepemahaman alias menentang.

Sejujurnya saya tidak bisa melogikakan pikiran saya terhadap orang-orang memberikan dukungan terhadap komunitas LGBT ini untuk berkembang di negeri ini (terutama bagi yang beragama islam dan mengaku muslim). Bahkan terasa sangat aneh apabila ada segelintir orang yang justru tidak merasakan apa-apa atas gejolak ini dan memilih diam. Parahnya lagi ada orang-orang yang gagal fokus dalam mencemati kasus ini.

Memandang LGBT tidak boleh dilihat dari satu aspek. Begitu banyak dampak yang akan dirasakan bangsa ini jika tidak cepat dihentikan pergerakannya. Bukannya “parno” tetapi ada semacam kekhawatiran jika persoalan LGBT dianggap sebagai persoalan biasa (sosial) dengan menggunakan alasan klise, mencoba memahami, merangkul, mengayomi. Saya rasa kita di sini bukan dalam rangka mau membunuh (maaf agak kasar) pelaku LGBT sehingga patut diayomi tetapi bagaimana menghentikan pergerakan tersebut agar perilaku menyimpang dari komunitas ini tidak menyasar ke semua lini.

Di LGBT, kita bukan sekedar membahas masalah manusia dengan segala kebebasan haknya tetapi bagaimana kita mampu mengupas habis dampak negatif dari penyimpangan prilaku LGBT di lihat dari sisi agama, etika, moral dan kesusilaan.

LGBT ini bukan budaya yang pantas berkembang di Indonesia sehingga patut dilestarikan. Harus ada sanksi hukum, sosial dan moral bagi yang berani melangkahinya. Apabila ada saran agar kita menggunakan bahasa cinta untuk melerai nafsu menyimpang seseorang, maaf, anda yakin? Cinta itu bukan landasan kuat untuk menghentikan perilaku menyimpang. Cinta bisa saja menjadi sangat lemah apabila si pelaku tidak punya rasa malu dan takut untuk melakukannya.

Perkembangan komunitas ini bukan dari keturunan tapi penularan. Saya tidak bisa bayangkan virus penularan “life style” seperti ini akan berkembang dan dimaklumi sebagai sebuah demokrasi dalam bersosial.

Keputusan MK yang menolak permohonan penggugat atas kasus ini memang sangat disayangkan. Padahal ini bisa jadi pintu masuk untuk membatasi ruang gerak komunitas ini. Saya memang tidak memahami seluk beluk para hakim itu di dalam memberikan suatu keputusan. Namun landasan yang dijadikan dasar ditolaknya sebuah permohonan juga sulit diterima oleh iman saya meski secara akal (normatif) dianggap wajar terutama oleh beberapa pakar hukum.

Setahu saya, di samping Undang-undang, hakim juga memiliki hukum yang tidak diformilkan yaitu hati nurani. Karena hakim diberi wewenang untuk mengambil keputusan berdasarkan keyakinan dan nuraninya.

Bukankah hakim itu Wakil Tuhan (Allah) di muka bumi ini? Nah menurut saya yang tidak pintar ini, libatkanlah Allah di dalam setiap keputusan. Dengan begitu kita akan paham, ada nilai yang lebih tinggi dari pada hukum atau Undang-undang yaitu keimanan dan rasa takut kepada Allah.

Jakarta, 2 Robiul Akhir 1439H
SZ/MC-PP/21-12-2017©

Leave A Reply

Your email address will not be published.