HANYA SATU KATA EVI

0

HANYA SATU KATA EVI
by Zeng Wei Jian

Satu lagi kecaman beredar, ditulis Evi Mariani Sofian. Dia bilang dia mengakses text pidato Anies Baswedan. Ada lebih dari 1.400 kata. Dan satu kata “pribumi” sudah membuatnya bisa membaca arah politik Anies. Heibatt..!!

Menurut Evi Mariani, arah Anies adalah jadi presiden. Posisi panggung tempat Anies pidato jadi salah satu indikator alasannya. Yaitu menghadap arah utara, ke arah Istana Merdeka. Evi berpendapat, kata “pribumi” ibarat bom yang menghanguskan segalanya.

Gosong donk..?! Tapi, ternyata ngga. Evi bilang, “Saya tidak melihat ada yang gosong kemarin”.

Wait a minute. Before we are going too far, saya liat Evi Mariani Sofian ini luar biasa. Dia menjadi “political shaman”, psychic commentator atau cenayang. Hanya dengan satu kata dan ilmu feng shui, Evi Mariani bisa menebak arah politik Anies Baswedan i.e. ingin jadi presiden. Fakultas Ilmu Politik sudah harus ditutup kalo begini.

Masalahnya, Evi Meriani sedikit keliru. Saya ada di lokasi saat Anies pidato. Arahnya bukan ke istana. Tapi Stasiun Gambir. Thus, mestinya Evi bilang Anies mau pulang kampung ke Kuningan.

Next, Evi Mariani Sofian menulis, “Dalam pidatonya Anies menyinggung soal keadilan sosial, pengelolaan lingkungan, prinsip ketuhanan dalam bermasyarakat, kota yang melayani warga sebagai konsumen, juga kolaborasi dengan warga kota.”

Tema-tema besar pidato Anies ini tidak digubris. Evi Mariani ikut arus dan irama yang ditabuh Ahoker Sakit Hati.

Bagi saya, ini kegenitan. Evi Mariani berusaha memproduksi “racist profiling” terhadap sosok Anies Baswedan. Satu kata “pribumi” digunakan sebagai alat merobohkan program-program keadilan sosial, partisipasi masyarakat, dan lain sebagainya.

Seluruh konten dan bagan tulisan Evi Mariani berdiri di atas landasan “Liberal Democracy” dan Pseudo Civil Liberty Movement. Keduanya, bersama Left Wing Vandalism, LGBT, Aliran Sesat adalah kaki-kaki yang menghasilkan kepemimpinan diktatorial Ahok.

Persi serupa dengan Anti Fascist Movement yang membakar Brooklyn dan melarang aksi massa konservatif. Ternyata, “Anti Fascist” hanya label doang. Aksinya, fasis banget.

Lagipula, seksi pidato Anies yang dinyinyirin itu ada dalam frame diskursus “sosio-historikal”. Di situ, “Pribumi” bukan istilah rasis. Tapi, orang-orang rasis akan melihat semuanya dengan kacamata rasis. Ibarat, orang berkacamata biru, melihat segalanya menjadi biru.

Selain tidak bersih rasisme, Evi Mariani mengidap “historial blindness”.

Sejarah Indonesia, seperti kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo, adalah sejarah tentang perjuangan kaum bumiputra dan muslim. Jenderal Besar Sudirman adalah seorang kyai. Minoritas punya peran. Ada, tapi tidak signifikans. Minimal, tidak sebesar penderitaan dan perjuangan golongan mayoritas pribumi. Misalnya, non-pribumi tidak menjadi korban terperih Romusha.

Agenda global dan paradigma multikultural berusaha mengabaikan fakta sejarah ini. Dibalik jargon-jargon pluralistik dan humanisme, ada terselip cultural imperialism agenda. This is a new form of soft global colonialism. Motifnya, orang asing bisa masuk dan menjajah pribumi dengan cara-cara halus.

Bila satu kata “pribumi” bisa menganulir semua program-program kerakyatan Anies-Sandi, ya itu urusan Evi Mariani Sofian. Masi ada 9 juta orang Jakarta yang berharap program-program itu sukses.

THE END

Jakarta, 3 Shafar 1439H
SH/MC-PP/23-10-2017

Leave A Reply

Your email address will not be published.